Monday, January 8, 2007

Demam 3G

Sejak akhir tahun 2006 dan memasuki awal tahun 2007, masyarakat pengguna handphone di Indonesia mendapat kenalan baru, yaitu 3G (tri-ji). 3G adalah sebuah generasi baru akses data melalui jaringan telepon seluler GSM. 3G menjanjikan kecepatan akses data atau bandwidth yang lebih besar alias lebih cepat. Kecepatannya memungkinkan 3G digunakan untuk transmisi data gambar bergerak atau video dengan kualitas tertentu.
Iklan 3G ditayangkan di televisi secara gencar oleh para operator layanan GSM. Banyak feature ditawarkan mulai dari video phone, video streaming siaran TV atau film-film dan sebagainya. Para produsen handphone seperti Nokia dan Sonny Ericsson juga memasarkan produk-produk baru handphone kelas atas yang berteknologi 3G.
Pada pasar perdagangan handphone terjadi pembelian atau tukar-tambah handphone-handphone kelas atas, pengguna membeli handphone 3G. Otomatis harga handphone kelas atas tanpa 3G turun dengan drastis. Salah satu pemikiran pembeli adalah : “Buat apa harga handphone semahal itu kalau tidak bisa 3G?”
Bagi para pemakai handphone kelas menengah ke bawah, tidak memakai handphone 3G tidak masalah, karena tidak ada kebutuhan atau dana untuk itu. Bagi pemakai handphone kelas tersebut cukuplah bisa saling berbicara, kirim sms atau paling canggih ada radio FM, kamera VGA dan sedikit pemutar MP3 sudah memuaskan. Karena itu dengan masuknya teknologi 3G, harga handphone kelas menengah ke bawah masih cukup stabil dan hanya sedikit turun.
Harga layanan 3G dijanjikan oleh para operator akan murah dan tidak memberatkan. Apakah benar akan begitu? Sedangkan tarif umum rata-rata akses data saat ini adalah Rp. 3 sampai Rp. 5 per kilobyte. Dengan demikian untuk penggunaan sebesar 750 megabyte, pemakai harus membayar antara Rp. 3 juta sampai Rp 4 juta. Bandingkan dengan layanan speedy ADSL yang cukup Rp. 300 ribu untuk 750 megabyte.
Jika harga layanan 3G sama seperti dengan harga akses data yang berlaku sekarang, rasanya kita harus berhemat-hemat untuk menikmati 3G. Bukanlah lebih baik datang saja ke rumah teman atau berhubungan melalui webcam, daripada harus membayar sebanyak itu untuk 3G? Bukankah lebih baik nonton film di studio 21 saja dari pada nonton film melalui 3G? Bukankah lebih baik membeli mini LCD TV saja supaya bisa menikmati siaran TV dengan gratis?
Saya rasa ada dua hal yang masih harus dipikirkan jika menggunakan handphone 3G, yaitu harga layanan dan jenis kebutuhannya. Jika harga layanan masih terlalu tinggi dan kebutuhan hanya untuk entertainment saja, tentu tak sebanding. Seharusnya 3G dapat digunakan untuk hal-hal yang memberikan 'nilai lebih' dari biaya yang harus dikeluarkan. Kebutuhan akan informasi yang harus on-time dan bernilai bisnis seharusnya lebih mendapat perhatian pada layanan 3G.

2 comments:

Anonymous said...

Yang penting aku punya handphone 3G.

Anonymous said...

The world of online slots - LuckyClub
The world of online slots is booming and growing rapidly, thanks to the availability of online casino games luckyclub.live and slot machines for many people, while they are still not